Rabu, 29 Januari 2014

Berita Politik

Jokowi-Rieke Jagoan PDIP? Ini Penjelasan Sekjen Tjahjo

Liputan6.com, Jakarta : Jelang Pemilu 2014, para pengguna Twitter dihebohkan dengan kicauan yang menyebut bahwa pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dari PDIP sudah ditentukan.

PASANGAN dan cawapres PDIP itu adalah Joko Widodo alias Jokowi dan Rieke Diah Pitaloka. Pernyataan itu dilontarkan akun Twitter @tunggalp milik Tunggal Pawestri. Tunggal Pawestri tercatat sebagai calon anggota legislatif (caleg) PDIP untuk DPRD Yogyakarta.

"Sore pertiwi tercinta. Alhamdulllah, PDI-P telah memutuskan pasangan presidensial 2014: Jokowi + Rieke (bkn Puan) nasionalis-kerakyatan: GO!" tulis @tunggalp, Selasa (4/2/2014).
Liputan6.com mencoba mengonfirmasi keaslian akun Twitter dan benar tidaknya kicauan tersebut kepada Tunggal, akan tetapi Tunggal tak mendengar pertanyaan yang disampaikan.
"Halo, iya betul saya Tunggal, halo... halo... nggak kedengeran," ucap Tunggal, lalu hubungan telepon terputus. Ketika Liputan6.com mencoba kembali menghubungi telepon Tunggal, telepon genggamnya tidak aktif lagi.
Sekretaris Jenderal PDIP Tjahjo Kumolo saat dikonfirmasi Liputan6.com menampik kicauan @tunggalp. Tjahjo menegaskan, keputusan penetapan capres dan cawapres PDIP akan diambil setelah Pemilu Legislatif (Pileg) oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
"Ibu Ketua Umum yang diberi mandat oleh partai belum mengumumkan apa-apa. Belum ada pembahasan keputusan partai melalui Ibu Ketua Umum. Keputusanya kan setelah Pileg," tegas Tjahjo.
Karena itu, Tjahjo mempertanyakan pernyataan-pernyataan yang kerap muncul menjelang pemilu seperti kicauan @tunggalp. "Silakan tanya saja yang mengatakan pasangan itu siapa, lalu motivasi politiknya apa? Menjelang pemilu banyak isu," tukas Tjahjo. (Adm/Sss)

Tertutup Lumpur, Jalur Pantura Situbondo Lumpuh

Sabtu, 1 Februari 2014 | 13:08 WIB
SITUBONDO, KOMPAS.com - Jalur Pantura Situbondo, Jawa Timur, lumpuh total karena jalur yang menghubungkan Situbondo dengan Probolinggo tertutup tertutup material banjir, Sabtu (1/2/2014).

Kondisi ini menimbulkan kemacetan luar biasa. Antrean kendaraan mengular hingga mencapai puluhan kilometer, baik dari arah Surabaya maupun Banyuwangi,

Longsor yang terjadi di jalan raya Desa Klatakan, hingga Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan juga mengakibatkan dua mobil terseret arus banjir bandang tersebut.

Material banjir berupa lumpur dan bebatuan besar itu masih  menutup jalan raya pantura di jalan raya Desa Klatakan, Kecamatan Kendit. Bahkan, material itu ada di sepanjang 1 km di jalur tersebut.

"Untuk membersihkan material  lumpur dan batu besar yang mencapai ketinggian hingga 70 cm, kami langsung meminta  bantuan alat berat ke Dinas Bina Marga Propinsi Jatim. Hingga siang ini baru satu alat  berat yang datang ke lokasi," kata Kepala Pelaksana BPBD Situbondo Zainul Arifin.

Menurutnya, hujan  deras yang mengakibatkan terjadinya longsor di sejumlah titik selain membawa material dari pegunungan, sejumlah bronjong berisi batu-batu besar untuk penahan banjir di tepi jalan raya banyak yang ambrol.

“Sehingga material banjir  juga banyak berserakan di atas ruas jalan raya. Sejumlah rumah warga juga kembali tergenang banjir hingga ketinggian 0,5 sampai 1 meter,” imbuh Zainul Arifin.

Karena material banjir sedang dibersihkan hingga siang ini, untuk mengantisipasi terjadinya anteran kendaraan yang lebih parah,  petugas Polres langsung menutup jalur Pantura.

”Sembari menunggu selesainya pembersihan material, untuk sementara arus lalin baik arah Surabaya maupun Banyuwangi dialihkan ke jalur Bondowoso,” terang Kasat Sabhara AKP Haryono.


Ada Titik Rawan Longsor Lain di Dusun Kopen Jombang

Sabtu, 1 Februari 2014 | 12:59 WIB
JOMBANG, KOMPAS.com - Selain lokasi longsor yang menyebabkan 14 orang tewas di Dusun Kopen, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, masih ada satu lagi titik lokasi yang berpotensi longsor di dusun yang sama.

Penuturan Kepala Desa Ngrimbi, Sumarmi, titik yang rawan longsor itu berada tidak jauh dari titik longsoran pertama. Kondisi tanah tebing itu menurutnya sudah mengalami keretakan.

"Beberapa kepala keluarga yang tinggal di bawahnya, akan dievakuasi," kata Sumarmi saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (1/2/2014).

Pemindahan warga yang ada di lokasi itu sejalan dengan rencana Bupati Jombang Nyono Suharli. Nyono telah menyiapkan rencana relokasi terhadap 20 kepala keluarga yang tinggal di lereng bukit tersebut. Meskipun tempat relokasi belum dapat ditentukan, namun Nyono memastikan relokasi tetap berada di wilayah Kecamatan Bareng.

Relokasi tersebut sebagai bagian dari antisipasi adanya korban. Sebab, dalam bencana longsor pertama yang terjadi pada Selasa (28/1/2014), telah menyebabkan 14 korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jombang, Nur Huda,sebelumnya juga menyampaikan adanya enam titik rawan longsor yang tersebar di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Bareng dan Kecamatan Wonosalam.


Pencarian Korban Longsor Jombang Berlanjut

Sabtu, 1 Februari 2014 | 12:14 WIB

JOMBANG, KOMPAS.com - Pencarian korban bencana longsor di Dusun Kopen, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, memasuki hari kelima, Sabtu (1/2/2014). Pencarian dilakukan untuk menemukan dua jenazah tersisa.

Dua korban itu adalah Sail (48), serta Fathur Rozi (17). Keduanya adalah bapak dan anak. "Hingga siang ini belum ditemukan, pencarian masih berlanjut," kata Sumpeno Yuwono, Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya.

Pantauan Kompas.com, sejak hari kedua pencarian, tim SAR sebenarnya sudah memfokuskan pencarian pada satu titik, yaitu berada di bagian barat lokasi longsor. Lokasi itu berada di pinggir sungai Jurang Jero yang membentang di kaki bukit.

Pada titik itu pula jenazah Siti Rodiyah, istri Sail, ditemukan dalam pencarian sebelumnya. Sehingga petugas meyakini tempat itu sebagai lokasi hilangnya kedua korban.

Di tempat itu pula terdapat dua buah batu besar. Petugas gabungan berbagai elemen seperti tim SAR, TNI, Polri, serta beberapa unsur lainnya itu berupaya memindahkan batu itu berharap menemukan korban.

Sebelumnya, dalam bencana longsor yang terjadi Selasa kemarin, membuat 5 rumah tertimbun tanah dan 16 warga menjadi korban. Dari jumlah itu, 2 korban ditemukan selamat, 12 korban tewas dan 2 lainnya masih dalam pencarian.


Sampah Banjir di Manado Bawa Rejeki

Sabtu, 1 Februari 2014 | 09:49 WIB
Kompas.com/Ronny Adolof BuolBeberapa anak sedang memilah sampah banjir bandang yang dibuang di TPA Sumompo Manado. Mereka kemudian menjual kembali sampah yang masih bisa didaur ulang tersebut.


MANADO, KOMPAS.com - Banyaknya sampah yang ditinggalkan banjir bandang Manado, ternyata menjadi sumber rejeki dan penghasilan bagi orang lain.

Nyong, bocah berusia tujuh tahun yang ditemui di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompu mengaku mendapat banyak penghasilan dalam dua minggu terakhir ini.

"Jadi banyak barang yang bisa dipilih. Saya bantu ibu. Kami lalu menjualnya," aku Nyong, Sabtu (1/2/2014).

Menemani ibunya yang sudah bertahun-tahun menjadi pemulung di TPA Sumompo, Nyong mencari sampah yang masih bisa dijual kembali. Mereka lalu memilah sampah-sampah tersebut. Membersihkannya dan kemudian mengepaknya dalam karung plastik.

Beberapa pemulung yang ditemui Kompas.com juga mengakui hal yang sama. Jika sebelumnya dalam sehari mereka berpenghasilan rata-rata Rp 50.000, kini bisa tiga kali lipat bahkan lebih.

"Masih banyak barang-barang yang layak diperbaiki dan dijual kembali. Kami membersihkannya dari lumpur dan menawarkan kepada pengumpul," tambah Nanang, yang mengaku datang dari Gorontalo.

Pascabanjir bandang menerjang Manado pada Rabu (15/1/2014) lalu, ribuan ton sampah setiap hari diangkut untuk dibuang. Luasnya wilayah yang diterjang banjir merusak puluhan ribu rumah warga dan bangunan lainnya.

Terjangan dahsyat banjir tersebut telah meninggalkan sampah yang luar biasanya banyak. Hingga dua pekan lebih banjir surut, persoalan sampah tersebut belum bisa dituntaskan.

Setiap hari ribuan relawan dari luar Manado, bahu membahu datang membantu warga yang terkena banjir. Mereka membantu mengangkat sampah yang ditinggalkan banjir tersebut. Ratusan mobil truk yang sudah disiapkan mengangkut sampah tersebut dan membawanya ke TPA Sumompo.

Bencana telah membuat sebagian besar warga Manado kehilangan harta benda mereka. tetapi bencana itu telah membuat sebagian warga lainnya mengais rejeki dari sampah yang ditinggalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar